Imperfect is Perfect, kok!

Gambar flickr.com


Penggemar film pasti tidak asing lagi dengan kata imperfect. Yap, salah satu film Indonesia yang meledak di pasaran pada akhir tahun 2019 itu memang beda dari biasanya. Pasalnya, banyak film Indonesia yang terus mencekoki penonton dengan tokoh utama wanita yang harus cantik, putih, badan ideal, rambut lurus, dan masih banyak lagi, deh. Standar cantik Indonesia banget, lah, ya! Tapi tidak dengan film garapan Ernest Prakasa ini, yang akhirnya berani dan berhasil keluar dari zona resmi kecantikan wanita pada umumnya.

Rara, tokoh utama dalam film digambarkan menjadi sosok wanita kuat yang tahan banting. Hal itu diperkuat dengan penampakan fisik yang gendut, rambut curly, dan tidak fashionable. Keadaan tersebut ‘diperparah’ dengan munculnya Lulu, adek Rara yang memiliki penampilan bak wanita ideal masa kini. Cantik, tinggi, putih, beuh, sempurna banget kayanya! Karena kekontrasan tersebut, Rara seringkali dinasehati untuk mengubah penampilan, diet, dan olahraga oleh mamanya. Tante-tantenya pun secara langsung melakukan body shamming atau mengejek beberapa bagian tubuh Rara yang dianggap berlebihan dan harus diubah.

Alhamdulillah-nya, Rara termasuk orang yang cuek dengan omongan orang. Selagi dia nyaman dengan dirinya, maka ia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Apalagi Rara sudah punya Dika (pacar) yang selalu sayang dan nerima dia apa adanya. Gak ada deh tuh ceritanya toxic relationship dalam hubungan mereka. Gak ada tuntutan buat jadi gini, buat jangan gitu! Meski Dika gak pernah nuntut Rara buat berubah, pekerjaan Rara ternyata punya andil besar yang maksa dia buat ngubah penampilan.

Semenjak itu, Rara jadi ngerti fashion, mulai diet, catok rambut, dan masih banyak lagi deh usahanya buat jadi wanita ideal. Tapi, saat Rara udah jadi cantik, Dika malah ngerasa kurang nyaman bareng Rara yang sekarang. Udah gak perhatian lagi, gak mau panas-panasan, dan jadi emosian, menurut Dika. Butuh waktu banyak buat akhirnya Rara jadi pribadi yang dulu Dika suka.

Dari perubahan Rara yang awalnya jadi bahan bulian sampai proses perubahan penampilannya yang begitu signifikan, film Imperfect banyak ngasih insight ke penonton dan banyak fakta pahit juga yang diangkat lewat film ini. Mulai dari standar kecantikan yang emang nyata adanya, keharusan buat menuhin ekspektasi sosial, dan masih banyak lagi kasus yang terjadi buat dapat menangin hati masyarakat, bahkan jika harus kehilangan diri sendiri.

Dari ekspektasi masyarakat yang tinggi tersebut, disadari atau tidak, ada perubahan mental yang terjadi dalam diri banyak orang seperti Rara. Ada ketakutan tidak diterima dalam sirkel, resah, dan suka bertanya-tanya yang ujungnya adalah membandingkan diri dengan orang lain. Yes, insecure! Rasanya sering banget denger kalimat, “dia cantik banget, gue mah kentang,” “lo mulus banget sih gak ada jerawat, skincare gue bertumpuk tetep gak glowing,” dan masih banyak lagi. Padahal bisa jadi orang yang kita anggap sempurna juga sama insecure-nya kaya kita, meski patokan sempurnanya orang pasti beda-beda. Kita cuma butuh menerima, penerimaan penuh sadar bahwa gak sempurna itu normal.

Tidak berhenti disitu, Imperfect juga ngasih fakta kalau ternyata selama ini biang ketakutan dan ke-insecure-an kita justru datang dari sirkel-sirkel yang dekat sekali dengan kehidupan kita. Keluarga, sahabat, pacar, dan teman adalah orang-orang yang punya andil paling besar dalam ngubah konsep insecure jadi bersyukur. Karena pada faktanya, saat ada seseeorang yang berhasil menenangkan perasaan takut dan gelisah tersebut, ketidaksempurnaan bukan lagi menjadi persoalan utama. Dengan bersama, sudah cukup mencipta sempurna. Jangan insecure lagi, ya!

“Kadang kala tak mengapa
Untuk tak baik-baik saja
Kita hanyalah manusia wajar jika tak sempurna”
–OST Film Imperfect, Pelukku untuk Pelikmu



1 komentar untuk "Imperfect is Perfect, kok!"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel