Teladan Nabi Isa kala Bertemu Seekor Babi

Gambar google.com


Masyhur sebagai nabi yang dikaruniai mukjizat lahir tanpa seorang ayah. Nabi Isa memiliki karakter yang penuh dengan ketabahan dan keteguhan hati yang kuat. Sebab itu pula, ia memiliki gelar ulul azmi di antara 5 rasul pilihan.


Memiliki misi agama untuk melanjutkan ajaran Nabi Musa AS. Isa bin Maryam tumbuh sebagai anak yang cerdas. Hingga ketika masih berumur 12 tahun, ia mampu mempelajari Taurat bersama orang-orang Yahudi yang jauh lebih tua darinya dan mengajukan pertanyaan tentang tauhid.


Keteguhan dan kecerdasan Nabi Isa menjadi mukjizat tersendiri. Termasuk dalam menjaga kebiasaan baik pada kesehariannya, dari hal-hal kecil sekali pun.


Pada suatu riwayat, menceritakan ketika Nabi Isa sedang melalui perjalanan dan bertemu dengan babi. Ketika berpapasan, Nabi Isa berucap "Melintaslah dengan selamat (hati-hati)"


Ucapan itu lantas membingungkan orang yang berada bersama Nabi Isa sehingga mereka bertanya untuk memastikannya "Wahai Ruh Allah, untuk babi ini kau berucap (seperti itu)?"


Lalu Nabi Isa memberi jawaban dengan menjelaskan maksudnya sekaligus secara lugas "Aku tak ingin membiasakan lidahku (mengucapkan hal-hal) buruk"


Sebuah nilai yang amat tinggi terkandung dalam ucapan Nabi Isa. Ia menegaskan secara cerdas bagaimana kebutuhan melatih diri dalam menjaga perbuatan baik menjadi sebuah keharusan, dimulai dengan perkara yang mungkin sepele.


Hal demikian juga mungkin menjadi sesuatu yang tidak bisa dipahami secara tiba-tiba bagi kita. Sama halnya dengan kebingungan orang yang sedang bersama Nabi Isa 'alaihissalam ketika tiba-tiba menyampaikan pesan hati-hati kepada seekor babi yang berpapasan dengannya. 


Akan tetapi ketika kejadian itu dijawab dengan penjelasan yang lugas dan cerdas oleh Nabi Isa, jawaban dapat diterima dan menjadi sebuah pelajaran yang besar bagi orang yang mendengarkannya. Terlebih bagi kita yang mungkin menganggap sebuah aktualisasi nilai pada perkara remeh adalah hal yang sepele.


Proses pembiasaan pada titik ini hadir sebagai urgensi yang mesti digalakkan pada tiap segmen kehidupan. Sebab pada dasarnya, setiap rasa dari sebuah kelegahan jasmani dibentuk oleh adanya kebiasaan. Ketika jasmani melakukan sesuatu yang di luar intensitasnya, maka akan terasa asing dan aneh ketika melakukannya.


Sepadan dengan orang yang terbiasa untuk taat pada peraturan-peraturan yang ada, ia akan merasa tidak nyaman ketika mesti didesak agar menepikan kebiasaannya tersebut. Perasaan demikian yang menjadi sebuah bentuk bukti bagaimana pentingnya dari pembiasaan.


Kelenturan yang terjadi pada diri akan perbuatan baik memang sudah selayaknya dilatih. Seperti teladan yang terdapat dalam kisah Nabi Isa, tentang bagaimana pelatihan agar dapat menjaga lisan demi senantiasa terbiasa dengan ucapan-ucapan yang baik. Ucapan-ucapan yang menggambarkan akhlak mulia (min khusnil adab).


Keutamaan nilai-nilai yang terdapat pada akhlak mulia kemudian menjadi sebuah pernyataan rasa yang harus terimplikasikan bagi orang-orang yang mengaku beragama. Hingga ajaran tentang akhlak mulia menjadi nilai luhur yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. "Tidak sekali-kali saya diutus oleh Allah (kecuali) hanya satu untuk menyempurnakan akhlak, untuk membangun akhlakul karimah" sabdanya.


Selanjutnya, perbaikan akhlak dengan teraktualisasinya proses pembiasaan menjaga lisan mesti dilakukan secara menyeluruh. Termasuk menjaga lisan kita agar senantiasa sebisa mungkin tidak mengeluarkan kata-kata buruk. Baik dalam keadaan emosional atau dalam keadaan perasaan religiusitas yang kuat.


Bukan sebab pada siapa ucapan tersampaikan, tetapi begitu pentingnya menjaga kebaikan yang ada pada diri. Seperti teladan Nabi Isa ketika bertemu dengan seekor babi, hewan yang dianggap banyak memberi kemudharatan bagi manusia.

Tidak ada komentar untuk "Teladan Nabi Isa kala Bertemu Seekor Babi"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel