Teruntuk Pejuang Hidup: Apa Sih Berhasil itu?

bisabaik.com – Sebagai manusia yang apa adanya, menjalani hidup dengan harapan-harapan adalah sebuah kewajaran. Bahkan sejak dini hingga menginjak usia dewasa tidak jarang kita selalu mendengar supaya dari setiap pijakan langkah kehidupan, kita mesti berorientasi pada cita-cita. 

Berangkat dari sebuah harapan, kita semua mampu memanifestasikan kebahagiaan dari masa depan pada tiap perjuangan untuk mencapainya. Besarnya tekad dalam mendambakan sebuah harapan agar bisa terealisasi menjadi tendensi tersendiri bagi pejuangnya, mulai dari rasa nikmat hingga rasa lega bakal mewarnai tiap lelah-letih dari perjalanan.

Tetapi, terlepas dari itu semua, pertanyaan yang kerap muncul di benak kita adalah 'Apakah kita akan berhasil?'. Sebuah kata yang mungkin sering menjadi fantasi, dambaan, sampai doa bagi kebanyakan orang. Hingga kedekatannya (berhasil) dengan sebuah harapan menyebabkan seringnya kita lupa dalam merenunginya.

Kita tentu sering mendapat ucapan baik dari orang yang kita sayangi dengan kata 'berhasil'. Ketika bercengkrama, ketika kita sedang intensif bercerita pada orang-orang dekat, banyak di antara mereka yang kemudian memberi semangat dan dukungan, semoga kita menjadi orang yang berhasil. Lalu bagaimana makna dari kata berhasil itu sendiri? Makna dari kata yang sering menjadi motivasi bagi sebagian orang tetapi juga tak jarang menjadi bebal pikiran dalam sebuah perjuangan?

Apabila kita tanyakan pada banyak orang tentang makna keberhasilan, hampir bisa dipastikan jawaban satu dengan yang lain akan berbeda. Bisa jadi ada yang mengartikan berhasil dengan dapat mencapai apa yang telah dimimpikan. Ada juga yang memaknai keberhasilan dengan terpenuhinya setiap kebutuhan. Ada juga yang mendefinisikan keberhasilan dengan pencapaian karier yang mapan dan seterusnya. Akhirnya, keberhasilan menjadi sesuatu yang masih relatif dan abu-abu. Sampai akan lahir lagi pertanyaan, Apa itu mimpi, kebutuhan, bahagia, karier, dan tetek-bengeknya?

Saya adalah bagian dari orang yang terkendala dalam memaknai apa itu 'keberhasilan'. Definisi yang sulit untuk dijelaskan beserta ukurannya. Mungkin saja kata berhasil adalah sebuah pencapaian yang bersifat sementara, apabila satu langkah tercapai, variabel keberhasilan akan berubah seiring dengan tantangannya. Bahkan bagi kita yang masih mahasiswa, sering menjumpai pertanyaan kapan lulus? Setelah lulus, bakal ditanya kapan nikah. Setelah menikah juga bakal ditanya kapan punya anak? Setelah anak satu, bakal ditanya kapan nambah dua atau tiga. Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu akan berlanjut hingga negeri antah berantah. Sangat membebalkan, bukan?

Sedangkan pada titik yang berbeda, kita mempunyai keberadaan mental yang mencukup-cukupkan terhadap sesuatu supaya menjadikannya lebih ringan. Semisal saja kala kita dihadapkan dengan kondisi bergelimang uang, anggap saja 500 ribu sehari, kita akan menyatakan uang itu cukup sekali untuk memenuhi kebutuhan hari itu, bahkan lebih. Lalu dihadapkan dengan kondisi lebih rendah, 50 ribu sehari, kita bakal tetap menyatakan itu cukup, meski bisa jadi ketambahan kata semoga. Sampai dihadapkan dengan kondisi paling sedikit, 25 ribu sehari misal, kita akan menyatakan cukup, meski itu dicukup-cukupkan.

Padahal pada kenyataannya, seringkali kita melakukan yang sebaliknya. Ketika masih belum mempunyai hunian sendiri, masih ikut dengan rumah mertua, mungkin berpikir punya rumah kecil sederhana sudah cukup. Pokoknya bisa dihuni dengan bebas sendiri, bisa diatur sendiri, dan tidak membebani siapa-siapa. Setelah memiliki hunian sendiri, kita pengen rumah yang lebih bagus. agar lebih tahan, nyaman, dan enak dilihat. begitu tercapai, ingin rumah yang bertingkat dua. Supaya lebih percaya diri dan menyenangkan hati. Begitu saja seterusnya, tidak ada habis-habisnya. Hal sepadan mungkin juga terjadi dengan kendaraan, tabungan, dan sebagainya.

Kita juga sering terlena dengan kata 'kecukupan'. Padahal tidak semudah ketika mengucapkan. Minimal kita mesti siap-siap dengan beras satu karung untuk berjaga apabila ada sanak famili yang tiba-tiba datang dan perlu jamuan. Setelah dirasa masih kurang, mesti ditambah satu karung lagi. Siapa tahu tamu yang berkunjung bakal lebih banyak. Seterusnya akan seperti itu.

Keberlangsungan hidup dengan struktur keberhasilan yang senantiasa bergerak menjadikan kita tidak bisa memenuhi ideal-ideal secara menyeluruh sesuai keinginan. Sekaligus melahirkan sebuah struktur yang saling membelakangi, di pelbagai aspek-unsur jalan hidup. Dari persoalan tentang cukup, menikmati perjalanan, hidup sederhana, apa adanya, dan berbagai ungkapan lainnya. Berakhir sama dengan menyisakan kenyataan yang sebaliknya.

Menjadi danger bagi kita semua terhadap perasaan yang selalu kurang, tidak pernah puas, hingga ukuran keberhasilan yang fleksibel. Meski sebagian besar pakar meyakininya sebagai kontruksi yang mendobrak kemajuan zaman. Di mana pada realitas peradaban bukan sekadar manusia mampu menjawab tantangannya, lebih dari itu, manusia juga dipenuhi dengan rasa ingin lagi, lagi, dan lagi.

Maka bisa jadi kita semua memang sudah sepatutnya  untuk berjalan menapaki kehidupan dengan kesadaran yang cakap. Kesadaran akan perlunya keseimbangan. Kapan harus berjalan, kapan harus berhenti. Kapan harus berlari, kapan harus pelan-pelan. Hingga kapan mesti merasa cukup, tetapi sekaligus mengoptimalkan rasa penasaran, rasa ingin lagi dan lagi. Terdengar seperti tantangan yang gampang-gampang susah. Semisal, atlet sepak bola yang mesti cakap menggiring bola sekaligus mumpuni dalam mengelola ritme emosi. Sepadan, menjadi manusia seimbang bisa jadi memang butuh latihan.

Jika semua itu bisa kita maksimalkan, menjadi manusia yang cakap dalam menjaga keseimbangan, dari angan-angan kepada kenyataan, apakah kita bisa disebut berhasil? Atau telah mencapai keberhasilan?

Jawabannya ya gitu. Bisa jadi!

1 komentar untuk "Teruntuk Pejuang Hidup: Apa Sih Berhasil itu?"

  1. Ngena banget .. terimakasih acuan dan motivasi yang terus ditorehkan melalui tulisan yang cantik ini .. Tambah jaya @bisabaik.com ..

    BalasHapus

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel