Cabin Fever: Kebebalan Stay At Home Selama Pandemi


Oleh : Dewi Ariyanti Soffi

Dilansir dari pexels.com - Ilustrasi Cabin Fever

bisabaik.com – Kebijakan stay at home selama pandemi Covid-19 mengharuskan kita berada di rumah pada batas waktu yang tidak ditentukan. Berdiam diri di rumah merupakan sebuah kewajiban dengan kondisi seperti ini, namun apa jadinya jika terlalu lama berada di rumah tanpa berinteraksi dengan masyarakat? Sangat jelas, kondisi seperti itu akan berdampak buruk bagi kesehatan mental kita. Berawal dari rasa malas untuk keluar rumah, hingga menjadi kebiasaan hingga mulai menarik diri dari lingkungan. Hal ini berakibat pada rasa takut untuk bertemu dengan orang lain selain anggota keluarga kita dirumah, takut untuk diterima bahkan rasa canggung hingga memilih untuk tidak bertemu dengan siapapun.

Dilansir dari kontan.co.id, cabin fever adalah sebuah emosi atau perasaan sedih yang muncul akibat lamanya "terisolasi" di dalam rumah ataupun tempat tertentu, sehingga individu akan merasa terputus dari “dunia luar”. Berdasarkan penjelasan tersebut seseorang yang mengalami cabin fever akan merasa kesepian, gelisah, bahkan merasa putus asa. Pada umumnya mereka akan menganggap bahwa “hidup tidak ada gunanya”. Bahhkan kita sering mendengar ungkapan hidup hanya menjadi beban orang tua. Perasaan tersebut muncul akibat terlalu lama tidak berinteraksi dan bertemu dengan orang-orang yang sebelumnya menjadi teman ngobrol bahkan teman curhat sekalipun. 

Pandemi yang tak kunjung usai memisahkan kita untuk bertemu dengan orang-orang terdekat, seperti: teman sekolah, teman kuliah, hingga teman kerja. Perasaan kesepian membawa individu pada rasa putus asa dan berimbas pada kesehatan mental mereka. Individu akan merasa tidak ada orang yang bisa mengerti mereka, termasuk diri sendiri. Hal tersebut diakibatkan kurangnya komunikasi dengan keluarga atau pribadi yang cenderung menutup diri, sehingga mereka akan memilih bercerita hanya dengan orang-orang yang mereka percaya. Namun, semua itu berubah saat pandemi Covid-19 datang. 

Dilansir dari tirto.id sebanyak 64,3% dari 1.522  responden di Indonesia memiliki masalah psikologis yakni cemas atau depresi terkait kesehatan jiwa dampak dari pandemi Covid-19 yang dilakukan di laman resmi Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI). Suasana serba online, mengharuskan individu untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru. Hal ini memang terasa sulit, namun kita harus tetap menjalaninya dengan seimbang. 

Menurunnya motivasi, insomnia hingga berujung pada menurunnya nafsu makan merupakan dampak teburuk dari seseorang yang mengalami cabin fever. Beberapa orang diluar sana mungkin akan mengalami pertambahan berat badan selama masa stay at home, namun tidak bagi mereka yang mengalami cabin fever, bisa saja mereka akan mengalami penurunan berat badan hingga kondisi fisik yang kian menurun.

Untuk menghindari cabin fever kita perlu melakukan beberapa hal yang bisa menyenangkan diri sendiri. Menyenangkan diri sendiri tidak berarti egois, ada kalanya individu membutuhkan ruang bagi dirinya untuk merasa senang dan berkembang. Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain: membaca buku, olahraga, mengatur pola makan, bertemu dan berinteraksi dengan teman di luar lingkungan keluargamu. Jangan biarkan dirimu terkungkung oleh keadaan, justru dengan keadaan yang seperti ini kamu dapat meningkatkan produktivitasmu.

Salah satu metode ampuh untuk meningkatkan motivasi diri adalah lihatlah secara flashback, apa saja pencapaian yang telah kamu raih. Meskipun itu tidak bisa kamu peroleh di masa pandemi seperti ini, setidaknya kamu adalah orang yang bermanfaat dan berguna bagi orang lain. Tidak ada manusia yang tidak berguna bagi sesamanya, semuanya memang terasa sulit ketika sendiri. Namun, bukankan pada masa ini merupakan saat yang tepat untuk berkontemplasi dan bertumbuh. Tetapkan tujuanmu dan susunlah sedemikian rupa, ada banyak hal yang bisa kamu lakukan saat ini.

Rasa kesepian bisa kamu tepis melalui perasaan bahwa kamu tidak sendiri, ada banyak orang yang mengalami hal serupa namun mereka bisa melaluinya. Bangkit dari keterpurukan adalah pilihan yang tepat, jangan biarkan dirimu terlalu lama dalam dark circle seperti ini. Banyak orang yang mencintai dan menyayangi kamu, kamu adalah orang yang berharga. Meskipun kamu merasa tidak berguna di suatu lingkungan, bukan berarti kamu tidak berguna di lingkungan yang lain. Kamu akan dihargai di lingkungan yang tepat, yakinlah kalian akan menemui banyak orang di luar sana. Banyak orang yang datang dan pergi, namun kamu bisa memilih dan mem-filter lingkungan kamu sendiri. Kamu tidak ingin melihat dirimu lebih buruk bukan? Oleh karena itu berubahlah menjadi yang lebih baik, baik secara fisik maupun psikis. 

Tidak ada komentar untuk "Cabin Fever: Kebebalan Stay At Home Selama Pandemi"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel