Idul Adha: Kontekstualisasi Manusia yang Saleh Ritual dan Saleh Sosial


bisabaik.com – Momentum Idul Adha merupakan hari raya yang diperingati pada tanggal 10 Dzulhijjah oleh umat muslim di seluruh dunia setiap tahunnya. Idul Adha erat kaitannya dengan ibadah kurban sebagai tradisi dan ajaran dalam agama Islam yang dalam segi pelaksanaannya memiliki persamaan dengan ibadah haji. Hanya saja dalam sisi tempat dan pelaku, kurban dan haji terdapat perbedaan. Seperti yang sering kita dengar tentang Idul Adha, maka akan terlintas di benak kita tentang tradisi kurban yang akrab dengan menyembelih hewan.

Pinterest - Ilustrasi Menyembelih Hewan Kurban saat Idul Adha 


Idul Qurban merupakan bentuk peristiwa yang mengenang kisah dari Nabi Ibrahim AS dan anaknya, Nabi Ismail AS. Ketika pada saat itu, Nabi Ibrahim mendapatkan perintah melalui mimpinya untuk menyembelih Nabi Ismail. Sebagai seorang hamba, Nabi Ibrahim tidak langsung menyalahkan mimpinya tetapi juga tidak serta membenarkannya. Setelah sampai pada malam berikutnya, Nabi Ibrahim tetap bermimpi yang sama hingga terulang tiga kali. Hingga dengan segenap keimanan, Nabi Ibrahim meyakini bahwa mimpi tersebut merupakan perintah Allah yang harus dijalankan. Meskipun dalam tafsir Al-Munir, dijelaskan apabila Nabi Ibrahim harus rela menyembelih putra satu-satunya yang masih berumur 7 atau 13 tahun.

Peristiwa itupun diabadikan dalam Al-Quran surat As-Saffat ayat 102, yang artinya, "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: 'Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!' Ia menjawab: 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'"

Hingga ketika pisau tajam Nabi Ibrahim yang berada di leher Nabi Ismail tidak melukai apapun, Allah SWT berfirman apabila semua itu adalah bentuk ujian dan tidak menghendaki penyembelihan Ismail, lalu ditukar dengan seekor kambing. 
Disebutkan dalam Al-Quran Surat As-Saffat ayat 104 - 108 yang artinya, “Lalu Kami panggil dia, ‘Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,”

Ibadah menyembelih hewan kurban dalam Idul Adha merupakan sebuah bentuk usaha mendekatkan diri seorang hamba kepada Allah, Tuhan sekaligus yang menciptakannya. Senada dengan apa yang telah diteladankan Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail, sudah sepatutnya kita harus senantiasa berusaha untuk mengamalkan apa saja yang telah menjadi perintah dan ketetapan. Sehingga dalam suasana Idul Adha, kita memiliki semangat yang segar untuk mendekatkan diri kepada Allah. 

Penekanan yang menjadi standar ibadah kurban sendiri bukan berupa seberapa besar seseorang mengeluarkan kurbannya tatkala mampu. Seringkali kita menganggap pengeluaran kurban paling besar dan paling banyak merupakan sebuah bentuk ibadah kurban yang paling diterima. Padahal, dalam kenyataan syariat Islam, Idul Qurban menekankan substansi yang jauh lebih besar dari sekadar nilai duniawi.

Allah akan memberikan penilaian terhadap seorang hamba yang melaksanakan Idul Qurban hanya ketika didasari ketakwaan, seperti yang dijelaskan pada Al-Quran Surat Al-Hajj ayat 37 yang artinya, "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya."

Apabila kita kupas secara komprehensif, ibadah kurban merupakan salah satu ajaran agama Islam yang sarat akan makna. Baik secara ruhiyah, hubungan antara diri sendiri kepada Allah. Maupun secara sosial kemasyarakatan, hubungan antara manusia dengan manusia yang lain. Kesadaran yang terbangun di antaranya adalah mengenai kerelaan dan keikhlasan sebagai orang yang melaksanakan kurban terhadap ibadah dan perhatian pada sesama, khususnya bagi yang membutuhkan.

Pinterest - Ilustrasi Menjadi Manusia yang Saleh Ritual dan Saleh Sosial


Selain itu, ibadah kurban juga merupakan sarana yang dapat membentuk kita menjadi pribadi yang ramah kepada interaksi sosial. Seperti sikap yang tidak egois, toleransi, dan mengutamakan kemaslahatan. dari Idul Qurban, kita dapat sama-sama merasakan bagaimana kesederajatan terjalin di seluruh elemen masyarakat dalam menjangkau kesenangan yang sama. Memperingati dengan gembiranya hari raya bersama-sama. Suatu kondisi dalam masyarakat yang apabila dapat dijaga, akan melahirkan kondisi yang stabil dengan ketenangan dan ketentraman. Karena sudah tidak ada lagi kelas dan sekat-sekat sosial yang berpotensi menciptakan kegersangan harmonis.

Sisi kemanusiaan yang dapat dipetik pada Idul Qurban terkontekstualisasi pada pembagian daging hasil penyembelihan. Oleh sebab itu, ulama mendikotomikan pembagian hasil kurban dengan dimakan sendiri, diberikan kepada fakir miskin, dan kemudian dapat disimpan. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW "Makanlah, simpanlah, dan bersedekahlah." 

Pengorbanan yang dilakukan dalam ibadah kurban dapat mengikis sedikit demi sedikit perasaan kikir. Sehingga akan memberikan dampak yang positif, baik kepada diri kita sendiri maupun lingkungan sekitar. Dengan didasari rasa ketaqwaan dalam semangat beribadah, Idul Adha merupakan momentum untuk melangkahkan diri sekaligus merenungkan hakikat dari kebahagiaan baik secara individu, beragama, bermasyarakat, maupun berbangsa dan bernegara.

Tidak ada komentar untuk "Idul Adha: Kontekstualisasi Manusia yang Saleh Ritual dan Saleh Sosial"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel