Jalan Hidup Kita Berbeda-beda

Seringkali kita merasa tidak berguna dan hanya menjadi beban. Kondisi dimana kita membuat pengakuan apabila diri kita bukanlah siapa-siapa. Begitu Kecil dan tidak berdaya.

Google – Ilustrasi Menggapai Tujuan dan Kesuksesan


bisabaik.com – Perasaan yang kerap muncul pada diri sendiri apabila sedang buruk merupakan hal yang wajar. Memilih untuk menerima dan berdamai secara lapang dada akan membantu semuanya terasa lebih ringan dan mudah. Tetapi hal yang runyam terjadi pada era generasi kita, generasi yang lahir sejak abad 21, yang menghadapkan kepada kondisi martabat menjadi jauh lebih penting dari sebuah ketenangan. Sehingga kita lebih suka untuk menyela diri sendiri daripada berdamai dan menerimanya.

Kita seringkali mengeluh tentang hal-hal yang kita sendiri menganggap sebagai ceroboh dan bodoh. Realitas jika kita harus berhadapan dengan orang lain yang lebih pintar, hebat, keren dan wah-wah yang lainnya malah melahirkan perasaan terkucil dan tersudutkan bagi sebagian kita yang dianggap remeh. Meskipun secara langsung tidak ada ungkapan yang menyatakan seperti demikian, tetapi realita sepat yang kita alami menyatakan betapa tidak ada gunanya diri ini apabila dibandingkan dengan orang lain yang notabene adalah pribadi yang 'wah' bagi atmosfer lingkungan kita.

Satu sisi kita harus menyadari jika kemungkinan usaha kita masih kurang giat daripada orang-orang yang sudah dikatakan berhasil di usia yang relatif dini. Kita mesti menyadari jika rebahan saja tidak lantas menjadikan kita menjadi berhasil. Apalagi jika kita hanya disibukkan dengan scrolling TikTok, Instagram, dan Medsos yang lainnya.

“Keberhasilan bukanlah milik orang yang pintar, keberhasilan adalah kepunyaan mereka yang senantiasa berusaha.”  – BJ Habibie.

Habibie mengungkapkan jika seseorang ingin berada di posisi yang diimpikan, maka diperlukan usaha keras untuk menggapainya. Pernyataan ini juga didukung oleh banyak pernyataan orang-orang yang telah berhasil lainnya. Sehingga semakin melahirkan kepercayaan atas usaha kerja keras yang harus kita lakukan adalah jalan terbaik menuju keberhasilan. Fenomena seperti ini kemudian dikenal dengan hustle culture.

Dilansir dari Fimela.com, fenomena hustle culture merupakan gambaran dari kondisi seseorang yang mesti senantiasa bekerja untuk menjadi berhasil. Budaya yang dilahirkan oleh fenomena seperti demikian tak hayal membuat kita semakin memeluk erat kepercayaan jika keberhasilan akan didapatkan bagi siapa saja yang terus bekerja. Tetapi pada posisi tertentu, seringkali kerja keras yang kita lakukan tidak serta menuai hasil yang terlihat. Ditambah dengan tidak jarangnnya kita membandingkan diri dengan orang-orang yang kita anggap telah berhasil, menjadikan lahirnya rasa bersalah yang memicu diri untuk lebih bekerja keras. Sehingga seringkali kita kehabisan waktu untuk beristirahat. Seperti liburan, me time, dan bahkan untuk sekadar tidur yang cukup. 

 Kejadian hustle culture kemudian tidak bisa dihadapkan secara langsung dengan pernyataan orang-orang berhasil secara sempit. Ungkapan-ungkapan mereka tidak boleh hanya sekadar dikutip tanpa diiringi dengan meninjau jejak biografinya. Tentu terdapat prinsip-prinsip lain yang dijadikan patokan mereka dalam bekerja. Prinsip-prinsip yang saling berkaitan dan mendukung satu sama lain. Sekaligus prinsip yang lahir dari penyikapan atas tantangan yang selama ini dilaluinya. Dan yang perlu kita sadari adalah tantangan yang dihadapi oleh mereka tidak mungkin sama persis dengan tantangan yang akan kita hadapi. Bahkan masing-masing kita pun, tentu memiliki jalan hidup yang berbeda-beda, bukan?

Kita tidak dapat mengambil kisah keberhasilan orang lain sebagai sudut sempit untuk kita jadikan patokan dalam berusaha. Kita juga tidak harus meniadakan tujuan untuk meleburkan diri dengan orang-orang yang kita anggap berhasil dengan cara berlari. Karena bagaimanapun yang terjadi, semakin kita menghabiskan segala hal untuk mewujudkannya, semakin kita akan merasa kelelahan. Sederhana saja, keberhasilan mereka dengan cara berlari versi mereka sendiri bukanlah diperuntukkan mengejar siapa-siapa. Melainkan fokus pada apa yang sedang mereka tata dan mereka hadapi ke depan.

Senada, kita pun tidak menjadi salah ketika berlari. Tetapi kita harus tetap memerhatikan orientasi dari apa yang sedang kita kejar. Pada realitanya, mungkij saja kita lari untuk satu alasan yang sama, tetapi dengan start yang berbeda. Dengan tanggungan yang berbeda. Hingga dengan jalan yang bisa saja juga berbeda. Nyatanya, kita mempunyai jalur masing-masing meskipun malangnya kita sering merasa tertinggal.

Keberhasilan di waktu muda bisa saja menjadi menyenangkan sekali. Mendapat sanjungan dari berbagai pihak, berada di posisi yang satu level lebih tinggi, sehingga berebut untuk saling menjalin relasi baik dengan kita —sebagai penegasan jika kita tidak dipandang dengan sebelah mata. Tetapi apabila parameter ini dijadikan patokan, lantas apa yang akan kita lakukan setelah mencapainya? Apakah kita akan menghamburkannya untuk memulai lagi? Atau kita akan menjalani rutinitas hambar yang disebabkan oleh 'entah mau ngapain lagi'?

Pada akhirnya, kita hanya akan menemukan alasan-alasan yang tersisa. Bahwa kita hanya dihadapkan pada kondisi untuk jalan atau berhenti kepada apa yang ada di depan mata. Kita sekadar perlu untuk mau menyeimbangkan kemampuan dan kenyataan. Bukan untuk sekadar bangun pagi, beraktivitas lagi, lalu bertemu orang-orang berhasil yang membuat risau kembali. Tentu lebih dari itu, masing-masing kita sudah ada jalan sendiri-sendiri. Hanya bagaimana kita untuk bisa menikmatinya dan mensyukurinya. 

Bukankah yang demikian dapat memberi kelegahan dan ketenangan?

Tidak ada komentar untuk "Jalan Hidup Kita Berbeda-beda"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel