Lebih Suka Sendirian? IT'S OKE!

bisabaik.com – Sebagai manusia saya percaya bahwa manusia dilahirkan dengan rasa takut. Rasa takut adalah perasaan normal yang dimiliki manusia, tentunya jika tidak berlebihan dan memiliki alasan yang jelas adanya. Bagaimana dengan rasa takut dengan suatu keadaan? Sendirian? Sendirian adalah hal yang mengerikan bagi beberapa orang, entah pembaca termasuk atau tidak. Sendiri adalah kata sifat yang merujuk pada ketiadaan dan ketidakikutsertaan orang lain dalam suatu kondisi atau urusan.


source: pinterest.com

Suatu ketika di kelas saya berdiskusi dengan teman tentang suatu hal, ada seseorang yang berniat pergi ke toilet dan mengajak teman lain untuk mengantarnya. Yang menarik perhatian adalah mengapa dia mengajak orang lain yang tidak berkepentingan untuk urusannya. Saya berulang kali bertanya-tanya tentang ini sampai di lain waktu kebetulan sayalah yang diajak untuk mengantar seorang teman ke toilet, kemudian saya tanyakan langsung kepadanya mengapa saya harus ikut. Kala itu ia menjawab sekenanya, hingga saat ini tidak ada yang memuaskan pertanyaan saya. Dari cerita singkat itu hanya ada terkaan mengenai alasan, tentang bagaimana mereka berjalan ke depan kelas sendiri, keluar kelas menuju kamar mandi, dan kembali ke kelas sendiri?

Terlihat sederhana untuk sebuah langkah kaki yang tidak memiliki kawan untuk beriringan. Namun tidak lagi sederhana jika kita memusingkan pandangan orang lain pada langkah kaki yang berjalan sendiri. Yang perlu diketahui manusia adalah pandangan orang lain tidak selalu penting, cara mereka berpikir bukanlah hal yang harus kita jadikan perhatian. Ingat bahwa kepedulian kita terbatas, arahkan kepeduliaan itu hanya untuk hal penting saja. Ingat bahwa kesehatan mentalmu itu, jauh lebih penting daripada cibiran orang belaka. Jadi tak apa jika kita pergi ke suatu tenpat sendirian, melakukan sesuatu sendirian, dan apa pun itu yang ingin kita lakukan meskipun kita sendirian. Tidak ada niat mencela kepada orang-orang yang enggan sendirian, namun saya mencoba untuk menekankan untuk jangan takut jika kalian sendiri karena sendirian tidak sebegitu menyeramkan. Cerita singkat tadi hanyalah sebuah contoh yang sangat kecil untuk memulai langkah berani melakukan suatu hal sendiri. Kalau langkah kecil saja tidak berani kita lewati, bagaimana kita akan menghadapi langkah besar berikutnya?

Konteks sendirian yang dimaksud di sini mari kita sisihkan dengan kesepian. Tapi nyatanya kesepian tidak akan bisa diabaikan karena tidak lepas dengan kesendirian. Sejumlah orang bisa merasa kesepian dengan kondisi sedang bersama orang lain ataupun sendiri, dengan kondisi ramai ataupun sunyi. Sehingga sendirian bisa jadi alasan dan bisa juga tidak untuk membuat orang lain merasakan kesepian.

Studi yang diterbitkan oleh American Psychologycal Association (APA) menemukan bahwa yang paling banyak merasa kesepian adalah generasi milenial di tahap dewasa muda. Hasil yang cukup mengejutkan karena banyak penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa generasi yang lebih tua atau dewasa akhir adalah yang paling banyak kesepian. Penelitian lain dari Mason University menemukan setidaknya 1 dari 3 orang muda di umur 25 tahun merasakan kesepian. Fenomena ini tidak akan luput dari keikutsertaan orang yang diteliti yang memang hidup sendiri atau minim berinteraksi dengan kelompok sosial. Mereka adalah pion yang berdiri sebagai bukti nyata bagaimana kesendirian memicu kesepian.

Kesepian berkaitan dengan stress hingga depresi. Sebuah studi metaanalisis Universitas Muhammadiyah Malang menemukan adanya pengaruh antara kesepian dengan depresi. Depresi ditandai dengan adanya gangguan mood yang memengaruhi proses mental meliputi berpikir, berperasaan, dan berperilaku. Depresi adalah tingkat yang lebih tinggi dari stress, sehingga kemunculannya sangat mengganggu keseharian manusia. Kemudian dari sini bisa ditarik keterhubungannya dimulai dari sendirian, kesepian, stress, lalu  berakhir depresi.

source: pinterest.com


 Sebuah kutipan dalam buku karya Viktor Frankl yang saya ingat salah satunya adalah apa pun bisa direnggut dari manusia kecuali kehendaknya untuk berbuat bebas. Artinya, manusia bisa memilih bagaimana ia merespon, pun dalam kondisi terburuknya. Mengenai rantai hubungan antara sendiri dengan depresi, saya percaya bahwa tidak selalu berakhir seperti itu. Dengan adanya berbagai macam kepribadian, karakter, dan suasana hati manusia tentu di antaranya terdapat orang yang lebih nyaman dengan interaksi minim dan atau kurang dalam kemampuan sosialnya. Mereka adalah orang-orang paling utama yang seharusnya mampu berdamai dengan kesendirian. Tidak adil rasanya apabila mereka harus depresi karena memilih untuk sendiri.

Kesendirian bukan hal yang harus kita takutkan, takutlah apabila kita tidak mampu untuk menyiasati kondisi. Sehingga sampai pada kemungkinan terburuk yaitu kesepian dan depresi. Dengan melakukan sesuatu sendiri memacu kita untuk mandiri. Dalam seburuk apa pun kondisi yang memaksa kita untuk sendirian, kita harus tahu jika percaya pada diri sendiri adalah pilihan akhir bagi setiap orang. Saya lebih senang menyebutnya pilihan bijak karena jika tidak ada orang lain, orang terkhir yang harus kita percaya adalah kita sendiri.

Percaya diri adalah atribut penting yang diperlukan saat kita memutuskan untuk sendiri. Ini mengacu dalam aspek perbuatan dan perilaku kita. Apabila kita melakukan sesuatu sendirian, jika kita tidak percaya diri maka apa yang kita lakukan akan terganggu dengan pikrian-pikiran negatif. Dengan rasa percaya diri kita bebas untuk melakukan sesuatu walaupun sendirian. Untuk memupuk percaya diri terkadang orang perlu usaha lebih. Sejatinya percaya diri adalah evalusi dan penilaian positif. Sehingga sebelum melakukan sesuatu sendirian maka terlebih dahulu pupuklah kepercayaan diri dengan penilaian.

“Apakah perbuatan ini perlu aku lakukan?”, “Apakah aku bisa melakukan ini sendirian?”, “Apa saja yang harus aku lakukan saat ini dan nanti ketika aku melakukan perbuatan itu?” Penilaian positif bisa bermula dari pertanyaan-pertanyaan tadi sehingga terbentuk keyakinan dari tujuan dan perilaku yang akan dilakukan. Pertanyaan-pertanyaan itu mendorong kita untuk lebih yakin untuk melakukan sesuatu. Sehingga jika melakukan suatu hal dengan sendirian pun kita tidak perlu ragu.

Kesendirian tidak selalu berakhir positif,  tindakan yang harus dilakukan adalah mencoba untuk menggapai akhir yang baik. Jika kesendirian adalah keharusan, maka itu harus menjadi peluang. Apabila kesendirian yang dimaksud adalah menyepi dan manarik diri dari lingkungan sosial yang ramai, ambillah sebagai kesempatan. Sendirian membuat diri untuk mengenali diri sendiri sekaligus memandang hidup dengan lebih tenang dan cermat, melihat apa yang tidak terlihat ketika kita di keramaian. Layaknya energi, dengan sendirian kita memusatkanya ke dalam diri.

            Ada kalanya terpintas pertanyaan yang mendesak kita untuk takut sendirian, pernahkah kalian menghindari sendirian karena enggan dianggap kuper dan terbelakang? Kalau tidak maka selamat, kalau iya mari buang pikran itu ke tempat paling jauh. Individu yang secara mandiri berani untuk sendiri, melakukan sesuatu sendiri, dan maju mengesampingkan pikiran dan pendapat orang lain untuk mengemukakan keinginannyaa patut dihargai sebagai manusia berdikari. Dia tidak pantas larut dalam emosi kesepian, cibiran, dan pikiran menuju kematian.

Manusia adalah makhluk sosial, tetapi Tuhan menakdirkan kepada kita akan perlunya kesendirian. Sebagai sekelumit waktu istirahat dari lelahnya berinteraksi dan bermasyarakat. Kehidupan tidak hanya berputar dengan lalu-lalang orang lain, di dalamnya ada yang lebih penting. Itulah kita sendiri. Tidak banyak orang tau betapa berharga dan istimewanya mereka. Anugerah dari Pencipta salah satunya menciptakan masing-masing dari kita berbeda. Kebersamaan bukan segalanya, dengan atau tanpa orang lain kita tetap berharga. Sehingga tidak ada alasan hina yang berkata jika kamu sendirian kamu akan tergilas sia-sia.

    

Tidak ada komentar untuk "Lebih Suka Sendirian? IT'S OKE!"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel