Optimisme-Pesimistik Pada Pengguna Sosial Media

 Pada era yang serba terbuka ini, setiap dari kita dapat dengan mudah menunjukkan ekspresi diri masing-masing. Melalui sosial media, kita terfasilitasi untuk saling berkoneksi dalam menjalin relasi dan membuat impresi diri.

 

Pixabay - Ilustrasi Bermedia Sosial

bisabaik.com - Kepercayaan diri merupakan sebuah penilaian dari evaluasi seseorang kepada dirinya sendiri. Dikenal juga dengan self-esteem, kepercayaan diri dipakai untuk menilai kemampuan  dan kepribadian.  Kepercayaan diri yang kita punyai adalah hasil penentuan dari berbagai faktor, beberapa di antaranya seperti perbandingan yang kita pakai dengan orang lain, pengalaman kesuksesan dan kegagalan yang kita alami, hingga peran dari kondisi sosial.

 

Kepercayaan diri dapat berpengaruh kepada proses kognitif yang ada pada diri kita saat mengalami kegagalan. Seseorang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi akan melalui sebuah ancaman terhadap percaya dirinya dengan cara menyeimbangkan. Dia tidak akan mudah membenarkan orang lain dan lebih memilih tetap berjalan sesuai dengan apa yang diyakini. Respon tersebut akan membantu seseorang tersebut dalam memelihara perasaan positif pada diri mereka. Sehingga kepercayaan diri dapat menjadi parameter saat dipergunakan pada kondisi mengalami penolakan sosial dan dapat menjadi motivasi bagi kita dalam bertindak dengan sensitivitas kepada ekspetasi orang lain. 


Baca Juga: 30+ Quotes Motivasi untuk Penyemangat Diri Sendiri dan Orang Lain, Cocok Jadi Caption Aesthetic


Penelitian membuktikan jika penolakan sosial membuat kepercayaan diri kita menjadi menurun dan membuat diri lebih ingin diterima. Salah satu bentuk usaha yang bisa saja akan dilakukan sebagai bentuk perlindungan diri adalah dengan melakukan penjelasan tentang diri sendiri atau self-presentation, yakni usaha dalam memberikan kesan yang baik sebagai bentuk meraih kepuasan secara sosial ataupun materi agar lebih merasa aman dalam beridentitas sosial. Setiap dari kita mungkin tidak ingin terlihat inkonsisten, supaya terlihat selaras, kita akan menyesuaikan sikap dengan tindakan.  Saat ini, sering kita jumpai konten-konten yang menunjukkan diri seseorang ataupun gaya kesehariannya yang bertajuk kebahagiaan atau inspiratif. Salah satu media sosial yang kerap digunakan sebagai sarana dalam menjelaskan diri adalah Instagram. Pengguna dapat dengan mudah melalui teks dan gambar untuk mengatur kesan yang diinginkan kepada orang lain.  

 

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Jocelyn Apodaca dari University of Nevada, Las Vegas, mengungkapkan jika jawaban responden kebanyakan didominasi oleh mereka yang menggunakan Instagram untuk membuat citra diri baik dan mereka yang merasa senang ketika memiliki followers banyak disebabkan pemikiran apabila pengguna lain tertarik dan merasa semakin tinggi followers maka semakin banyak yang ingin mengenal dirinya. Penelitian oleh Apodaca itu juga menjelaskan jika menemukan hubungan yang signifikan antara true-self (kenyataan diri) dan life satisfaction (kepuasan hidup). Nilai kepuasan hidup sangat memengaruhi unggahan tentang dirinya yang authentic. Sehingga, semakin authentic, semakin terlihat pula perbedaan antara profil online dari seseorang dengan perasaan yang sebenarnya semakin rendah. Hal ini pun berkaitan erat dengan subjective well-being (kesejahteraan subjektif).

 

Kepercayaan diri menjadikan interaksi positif dengan followers semakin meningkat. Setiap seseorang yang mempunyai kepercayaan diri yang rendah cenderung merasa tertekan saat menjaga citra positif dalam usaha terlihat menjadi sosok sempurna. Penelitian sebelumnya menjelaskan jika khususnya perempuan lebih mudah menerima pendapat dari orang lain saat mereka sedang mencari dukungan sosial dan penerimaan. Mereka yang memiliki kepercayaan diri tinggi lebih akan melakukan self-enhance (meningkatkan diri), khususnya pada kondisi publik atau kondisi mengancam. Menurut teori self-verification dari Swann menjelaskan jika seseorang akan terdorong menerima interpersonal feedback yang sejalan dengan konsep dirinya. Sehingga, bagi mereka yang mempunyai tingkat kepercayaan diri rendah akan lebih berekspetasi apabila orang lain akan memberikan feedback yang negatif kepada dirinya.


Baca Juga: Tips Bermedsos Era Pandemi: Utamakan Bijak, Pasti Untung!

 

Pada akhirnya, tindakan memakai media sosial khususnya Instagram dapat terjadi pada seseorang dalam rangka mempresentasikan diri. Dengan memakai media sosial, seseorang dapat mengatur citra seperti apa yang ingin disampaikan kepada orang lain agar mendapatkan penilaian yang baik, tanggapan positif, serta keberhargaan diri. Orang yang mempunyai tingkat kepercayaan diri  tinggi akan mempresentasikan dirinya dengan tujuan self-enhancement. Sedangkan orang yang memiliki tingkat kepercayaan diri rendah akan cenderung mengunggah sesuatu yang positif agar membentuk citra baik. Mereka yang memiliki kepercayaan diri yang rendah juga sering kali merasa tertekan dengan unggahan yang menampakkan kesempurnaan, disebabkan oleh perasaan tidak seperti apa yang individu lain tampakkan, sehingga mereka akan berusaha agar nampak seperni kesempurnaan tersebut.***

 

Tidak ada komentar untuk "Optimisme-Pesimistik Pada Pengguna Sosial Media"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel