Lelaki Itu Bernama Angga

 Oleh Vika Aulia Rohmah


Ilustrasi Mimpi yang Seperti Nyata. /shutterstock/

bisabaik.com - Lelaki Itu Bernama Angga

Pagi tadi, aku memulai hari dengan banyak cinta. Mimpi yang entah bagaimana bermula, sungguh berhasil mengoyak logika dan membuat semua seolah nyata.

Aku duduk di salah satu gerbong kereta. Sisinya terbuka, seperti kereta hiburan yang berkeliling di kota-kota. Kursiku kosong sebelah, memang tak ada orang yang memesan sebelumnya. 

Oh iya, aku tahu siapa juru kemudi di depan sana, aku sangat mengenalnya. Nanda.

Pria yang satu tahun lebih tua dariku itu masih tetap dengan kharismanya. Ia yang tidak banyak bicara, namun selalu tersenyum saat menatapku. Sungguh, masih sangat lekat rasa yang tumbuh di antara kami semasa kelas sepuluh. Dan aku pun tahu, dari mata yang berlinang itu, aku masih di hatimu. Ia menatapku dari kejauhan, masih dengan matanya yang tenang.

Satu detik aku menata gemuruh dalam kepala. Sampai-sampai tak sadar saat seorang lelaki datang dan kini telah terlelap tepat di sebelahku. Sekali lagi, aku juga tidak asing dengan wajah ini. Hidung mancung dan rambut yang sedikit berantakan akibat tertiup angin semakin menyempurnakan ketampanannya. Deg. Matanya sedikit terbuka, seketika jantungku gemar berdetak. Aku tahu siapa dia, tapi kami sama sekali tak pernah bicara. Ia memelukku tiba-tiba. Erat sekali.

Seseorang di seberang bangkuku memotret kami. Sepertinya ia mengenal lelaki yang berhasil membuatku tak bisa bergerak di antara kedua lengannya ini. 

Smartphoneku bergetar. Ada panggilan dari nomor tak dikenal.

“Halo?”
“Siapa kamu? Berani sekali memeluk putraku!”

Aku berani menebak bahwa perempuan di seberang sana adalah ibunya. Suaranya lantang sekali. Cukup untuk menggambarkan seberapa geram beliau dengan kesalahpahaman ini.

“Perempuan sepertimu bukan orang yang tepat untuk Angga! Kamu tidak sama dengan kami! Harusnya kamu tahu!”

Singkat, sakit, dan menarik. Aku belum sepenuhnya tahu mengapa dari kacamata ibunya aku terlihat sangat tidak baik. Berbagai cacian beliau lontarkan dengan sangat menggebu-gebu. Menegaskan bahwa aku sangat tak diinginkan.

Angga. Kakak dari juru kemudi kereta yang sedang melaju ini. Matanya teduh sekali. Persis dengan yang Nanda miliki.

Kereta berhenti. Angga baru melepas tangannya dariku. Wajar saja, ia memang terlelap lagi sesaat setelah membuka mata dan membuatku terpaku didekapnya.

Satu persatu orang meninggalkan tempat duduknya. Nanda, lelaki itu melihat ke arahku dan tampak sedikit terkejut saat melihat sosok di sebelahku. Ia menatapku sejenak, lalu pergi tanpa ekspresi. Ia memang tak pernah memaksa untuk selalu bisa memiliki apa pun yang ia inginkan. Tapi, jika masih tetap aku yang ia simpan, apa juga semudah itu ia lepaskan?

Di sampingku, Angga tersenyum tanpa menyadari apa yang terjadi. Jauh di dalam matanya, bisa kurasakan seberapa besar ia ingin memberiku ruang untuk tinggal. Bebas, luas, lapang sekali. Seolah memberitahu bahwa aku akan selalu bertemu hal-hal baik di dalam sana. Tanpa perlu khawatir, tanpa perlu risau dengan hiruk pikuknya semesta.

Kau tahu apa yang ramai di telingaku? 

“Di depan matamu, seseorang sedang tersenyum. Ia terus merapalkan doa untuk seseorang di depannya. Dia akan selalu menjagamu, memastikanmu terus tumbuh, dan membaik tiap waktu. Percayalah, dia datang untukmu.”

Hati adalah surga tak berujung bagi pemiliknya. Saat kau memiliki cinta, kau telah berhasil menggenggam dunia.

Aku pun terbangun. Dan tersenyum.

Tidak ada komentar untuk "Lelaki Itu Bernama Angga"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel