Krisis Relationship: Fenomena Gaslighting dalam Budaya Percintaan

Oleh: Dewi Ariyanti Soffi

Krisis Relationship: Fenomena Gaslighting dalam Budaya Percintaan. /Pexels/Odonata Wellnesscenter

bisabaik.com - Gaslighting merupakan salah satu bentuk penyiksaan secara psikologis bagi mereka yang terjebak dalam sebuah relationship. Kalimat yang menunjukkan bahwa cinta itu buta dan membuat orang yang terlibat menjadi bodoh memang benar adanya. Ketika logika tidak lagi digunakan sebagai landasan berpikir, disitulah perasaan mulai bertindak mengambil alih, sehingga kita sering tidak sadar bahwa kita sedang melakukan bentuk penyiksaan terhadap diri sendiri. 

Dilansir dari Psychology Today, fenomena gaslighting adalah bentuk manipulasi dan pencucian otak secara terus-menerus yang menyebabkan korban meragukan diri sendiri, hingga akhirnya korban akan kehilangan persepsi, identitas, dan harga dirinya sendiri. Pada awalnya isitilah ini diambil dari film Gaslight pada tahun 1944, dimana seorang suami yang mencoba meyakinkan sang istri bahwa dia gila dengan menyebabkan dia mempertanyakan diri sendiri dan kenyataan.

Cinta terhadap orang lain memang diperlukan namun satu hal yang perlu disadari, sebelum mencintai hendaknya kita mencintai diri sendiri. Mungkin pada beberapa kesempatan kita mengalami kesepian dan tekanan hidup yang mengarah pada quarter life crisis. Faktor-faktor tersebut menyebabkan seorang manusia ingin mencari hal-hal yang bisa mengisi kekosongan yang ia rasakan, salah satunya dengan mencari pasangan. Sebelum berlabuh pada hati orang lain, hendaknya kita menyadari bahwa Relationship yang sehat dibentuk dari kesepakatan kedua belah pihak, seperti: mempertimbangkan prinsip bersama, ingin membentuk hubungan yang seperti apa, dan tidak memaksakan salah satu kehendak. Dominasi salah satu pihak membuat pasangan merasa tidak punya kendali dalam sebuh hubungan. Dampaknya korban yang mengalami gaslighting terlalu sering meminta maaf dan menganggap bahwa semua kejadian yang terjadi pada hubungan mereka adalah salah korban. Saling mengingatkan memang hal yang penting, namun dalam tindakan tersebut terselip unsur “tak ingin disalahkan dan dianggap salah” sehingga salah satu pihak melemparkan kesalahan tersebut ke pihak lain.

Quarter life crisis dalam Afnan & dkk (2020) merupakan perasaan takut terhadap kelanjutan hidup di masa depan, seperti: urusan karier, relasi dan kehidupan sosial saat individu berusia 20 tahun keatas. Quarter life crisis menyebabkan kondisi seseorang tidak stabil, banyak pilihan yang dirasa tidak tepat saat individu mengalami krisis tersebut. Seseorang akan mengalami perubahan emosi yang tidak stabil, seperti: frustasi, panik, khawatir, dan kehilangan arah. Individu yang mengalami krisis ini rentan mencari sasaran lain, seperti: memutuskan menjalin hubungan percintaan. Merajut asmara memang benar dapat meningkatkan hormon dopamine atau meningkatkan rasa senang seseorang, namun hubungan percintaan bukan sebuah solusi. Krisis dalam diri individu bukan berarti akan usai, bahkan bisa jadi akan menambah kadar krisis selanjutnya, seperti fenomena gaslighting  membuat seseorang semakin terjerumus dalam lubang quarter life crisis. 

Fenomena gaslighting menjadi krisis bersama yang dialami para pasangan, saat terikat dalam sebuah status “pacaran” atau “komitmen”. Kuasa atas pihak yang mendominasi dalam relationship cukup melemahkan korban gaslight. Untuk menyampaikan pendapat dan mengutarakan apa yang ia rasakan saja tidak mampu, apalagi mengambil keputusan besar? Ketidakmampuan tersebut diwujudkan, melalui: rasa selalu menerima, mengalah dan selalu meng-iya-kan apa yang diinginkan pelaku gaslight. Mungkin pasangan diluar sana masih bingung, “Apa sih esensi dari status pacaran?”. Pertanyaan tersebut seharusnya kalian tanyakan pada diri sendiri dan pasangan kalian sebelum mencapai status itu. Meskipun realisasinya sama saja, masing-masing pihak harus saling menyesuaikan satu sama lain. Adaptasi memang diperlukan, bukan berarti kita harus menjadi apa yang ia inginkan. Ketika menjalani sebuah hubungan, beberapa hal memang tak akan sesuai ekspektasi. Oleh karena itu tak usah memaksa salah satu pihak, berikan ruang bagi masing-masing untuk bertumbuh. 

Dilansir dari IDN Times, terdapat lima tanda bahwa seseorang sedang mengalami gaslighting, yakni: 1) Selalu diingatkan tentang kelemahan dan kekurangan, 2) Sering merasa gelisah dan insecure, 3) Tidak dapat mengungkapkan perasaa dan apa yang kamu pikirkan, 4) Berusaha menyembunyikan dan memaklumi kesalahan pelaku, 5) Sering merasa bersalah. Hal-hal demikian akan mengakibatkan sebuah hubungan yang bersifat toxic atau beracun. Toxic relationship adalah istilah untuk menggambarkan sebuah hubungan yang tidak sehat dan berdampak buruk bagi kondisi fisik maupun mental seseorang. Meskipun mereka tidak saling menyakiti atau melakukan kekerasan secara fisik, mental dari korban toxic relationship mengalami luka bahkan menimbulkan dampak atau trauma yang berkepanjangan. 

Dalam sebuah hubungan seseorang dipaksa masuk kedalam circle pasangannya dan menyatarakan sesuai dengan apa yang mereka mau. Bukankah dengan menjadi orang lain membuat kita merasa tidak nyaman? Hal tersebut mungkin tidak berlaku bagi pihak yang tertindas, mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan hubungannya. Oleh karena itu, hal tersebut menjadi sebuah power bagi pihak yang superior untuk melakukan gaslighting.  Mungkin salah satu pihak merasa tak ada masalah, namun bagi pihak lain akan terasa berbeda. Hal tersebut dapat membunuh korban secara perlahan melalui kekerasan mental yang dirasakan. Kendali atas kuasa bak sebuah dogma bagi korban gaslighting dan toxic relationship. Dogma “dia adalah orang yang baik” adalah senjata ampuh untuk menutupi kesalahan pasangan dan menyangkal hubungan toxic tersebut.

Krisis relationship harus diatasi dan disadari oleh masing-masing pihak, salah satunya dengan kontemplasi dan komunikasi. Kontemplasi sering dikaitkan dengan tindakan untuk berpikir kembali, merenung dan instropeksi apa yang telah kita lakukan selama ini. Tindakan tersebut bukanlah victim blaming namun lebih kepada mempertanyakan kepada diri sendiri dan langkah apa yang harus diambil setelah ini. Komunikasi juga penting, jangan sampai terjadi miss communication dan berujung pada perpisahan. Bicarakan setiap masalah yang ada, terbuka satu sama lain dan semua hal bisa diselesaikan secara baik-baik. 

Meskipun keputusan yang diambil akan terasa berat bahkan klise, namun hal itu adalah langkah yang baik agar tidak terus-menerus menyiksa diri sendiri. Keputusan yang diambil secara matang dan berani, akan menghasilkan dampak yang positif meski ada beberapa perubahan yang memerlukan proses adaptasi. Terbiasa kemana-mana dengan pasangan dan sudah saling mengenal karakter masing-masing harus berganti menjadi kata “hanya ada diri sendiri”. Dengan menjadi sendiri kita bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa kita lakukan sebelumnya. Tak apa, hal itu cukup membentuk diri agar semakin bertumbuh dewasa. Bukankah ada pepatah yang mengatakan “semakin terbentur, maka akan semakin terbentuk”. Refleksi yang bisa kita ambil dari fenomena gaslighting dalam relasi percintaan adalah “jangan berekspektasi terlalu tinggi pada seseorang, karena suatu saat kita akan mengalami rasa kecewa”.

Tidak ada komentar untuk "Krisis Relationship: Fenomena Gaslighting dalam Budaya Percintaan"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel