Mengamini Perbedaan Adalah Upaya Sederhana dalam Menjadi Manusia yang Apa Adanya

Ilustrasi keberagaman dan perbedaan. -Pexels-Ron Lach

bisabaik.com - Semenjak lahir, lebih dari satu stigma personalitas sudah menempel dalam diri kita. Nama, etnis, agama, hingga personalitas fisik yang membedakan kita dengan manusia lainnya. Kita terlahir dengan bermacam-macam ragam bik dari dalam maupun luar tubuh. Sehingga, sudah sepatutnya jika perbedaan dan keberagaman menjadi realitas yang normal di dalam kehiupan keseharian.

Saya sendiri terlahir dari dua manusia yang berbeda. Saya juga besar dan berkembang di lingkungan yang memiliki perbedan. Saya pun pernah mengenyam pembelajaran di sekolah Islam swasta ataupun negeri, berjumpa serta bergaul dengan orang-orang yang memiliki tuhan serta adat istiadat yang beragam. Berangkat dari pengalaman itulah yang menjadikan hidup saya akan terus meyakini sebuah keberagaman.

Dalam perjalanan menimba ilmu, pembelajaran tentang keberagaman serta kehidupan multikultural sudah saya lahap semenjak masuk taman knk-kanak hingga perguruan tinggi. Bermacam sebutan, teori, konsep, hingga pelaksanaannya dalam kehidupan tiap hari sudah saya rasakan. Dalam proses pembelajaran, para pengajar sering bilang,

“ Bergaul dengan siapa saja, bukan sebab suku, agama, ras, ataupun kepercayaannya.”

“ Keberagaman sepatutnya jadi kekuatan.”

“ Toleransi berarti buat diterapkan dalam kehidupan beragama serta sosial.”

“ Cuma orang-orang yang tidak berpendidikan saja yang gagap melakukan perbandingan.”

saya mengamini ungkapan dari beliau-beliau yang memiliki lebih banyak ilmu. Idealisme itu saya genggam serta menjadi bekal dlam mewarnai kehidupanku nyaris tiap hari: cita serta harapan untuk jadi orang yang menghargai serta silih menghormati masing-masing keberagaman yang terdapat dalam hidup, walaupun realitasnya, kerap saya amati kabar tentang kekerasan serta perdebatan yang memunculkan perpecahan tersiar atas nama persatuan serta kesatuan. Meski mirisnya, pelakunya adalah banyak dari orang-orang yang berpendidikan.

Di lain waktu, sebagian saudara bercakap-cakap di ruang tengah dikala kegiatan kumpul keluarga dan mengatakan,

“Jangan menikah dengan orang Sumatra, keras serta pelit perangai mereka.”

“Jangan menikah dengan orang Jawa, walaupun lembut, mereka lelet serta pemalu.”

“ Jangan menikah dengan orang Betawi, mereka cuma dapat bergaya serta ongkang-ongkang kaki.”

“Jangan menikah dengan orang Sunda, tidak hanya suka bersolek mereka pula mau menang sendiri.”

Kemudian idealisme yang sering aku jadikan bekal tiap hari lama kelamaan menjadi ciut, tergerus kenyataan busuk kehidupan; tempat "perbandingan" senantiasa bersarang serta manusia merupakan pelakon utama yang melanggengkannya.

Terselip sisa-sisa idealisme yang masih bertahan hampir mati. Mereka berkembang produktif dalam jiwa-jiwa yang yakin akan keseragaman bisa berakhir menjadi malapetaka; pun pada mereka yang senantiasa berupaya mewakili suara-suara kecil yang nyaring, kaum-kaum terpinggirkan yang berjuang atas nama hak asasi, pun melalui metode siderhana dengan senantiasa membuat kegiatan kumpul-kumpul arisan rukun masyarakat.

Akhirnya, ini semua hanyalah siratan bias sudut pandang tentang sepanjang mana keberagaman ada di sekitar kita dan bagaimana cara-cara terbaik dalam menyikapinya. Meski begitu, saya tetap senantiasa yakin, jika tidak ada satu pun manusia yang menyetujui perpecahan dengan alasan apa saja.

Dalam suatu postingan bertajuk “Importance of humanity” dikatakan jika, “kemanusiaan berarti merawat dan membantu orang lain kapan pun dan di mana pun (selagi) memungkinkan. Kemanusiaan berarti membantu orang lain pada saat mereka sangat membutuhkan bantuan itu, kemanusiaan berarti melupakan kepentingan egois kita pada saat orang lain membutuhkan bantuan kita. Kemanusiaan berarti memperluas cinta tanpa syarat kepada setiap makhluk hidup di Bumi.”

Bumi ini isinya masih manusia, kan? Bila begitu, walaupun terdapat sebagian yang sudah lenyap, aku rasa sikap kemanusiaan semacam mengasihi serta mencintai antara manusia satu dengan manusia yang lain tidak akan lenyap dari muka bumi, sekalipun senantiasa terdapat perbedaan-perbedaan di tengah kita yang jadi batasannya. 

***

Tidak ada komentar untuk "Mengamini Perbedaan Adalah Upaya Sederhana dalam Menjadi Manusia yang Apa Adanya"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel